PENYUSUTAN AKTIVA TETAP

24 09 2008

Tahukah anda bahwa AT yang dimiliki suatu perusahaan akan mengalami penyusutan AT tsb kecuali Tanah. Misalnya kendaraan yang dibeli utk digunakan mengangkut brg hasil produksi, tentu utk jk waktu ttt kendaraan tsb akan memiliki nilai yg lebih rendah disbanding ketika dibeli.

 

Hal-hal yang menyebabkan penyusutan:

1. Faktor Teknis

            a. rusak

            b. aus

            c. bencana alam dll

2. Faktor Ekonomis

            a. Harga perolehan

            b. nilai sisa

            c. Umur ekonomis

            d. Metode penyusutan yang digunakan

 

 

Metode Penyusutan

 

Utk menghitung jumlah penyusutan dpt dilakukan dengan berbagai metode antara lain:

1. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)

            Dalam metode ini penentuan besar penyusutan setiap tahun selama umur            ekonomis sama besar, shg jika dibuatkan grafiknya thd waktu, dan akumulasi   biaya akan berupa garis lurus.

2. Metode Tarif Tetap atas Nilai Buku

            Pada metode ini, penentuan besar penyusutan dilakukan dengan cara     pengalokasian harga perolehan AT dgn persentase ttt dr nilai buku utk setiap     periode akuntansi. Ada dua cara yakni dgn metode saldo menurun dan metode             saldo menurun ganda.

 

 

Cara Menghitung:

1. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)

            Besar penyusutan tiap tahun dapat dihitung dgn rumus:

            Besar Penyusutan = Harga Perolehan-Nilai Sisa

                                                    Umur Ekonomis

            Contoh:

            Tgl 1 Agustus 2000 PT ABC membeli sebuah mobil Toyota Kijang seharga Rp             170.000.000,-. Untuk biaya balik  nama, pengujian, dan keperluan lainnya dibayar    Rp. 5.000.000,-. Mobil tsb ditaksir memiliki umur ekonomis 5 tahun dengan nilai       sisa Rp 50.000.000,-

 

Diminta:

Hitunglah penyusutan pada tahun 2000

Buatlah tabel penyusutan selama 5 tahun

 

Penyelesaian:

Penyusutan th 2000 dihitung dari tgl 1 Agustus 2000 s/d 31 Des 2000 = 5 bulan:

Besar Penyusutan th 2000 =  5  x (175.000.000-50.000.000)

                                              12                      5

 

                                          =  11.250.000

 

Tabel Penyusutan tahun 2000-2005

Tahun

Harga Penyusutan

Besar Penyusutan

Akumulasi Penyusutan

Nilai Buku

2000

175.000.000

 11.250.000

 11.250.000

163.750.000

2001

175.000.000

 38.250.000

 38.250.000

136.750.000

2002

175.000.000

 65.250.000

 65.250.000

109.750.000

2003

175.000.000

 92.250.000

 92.250.000

 82.750.000

2004

175.000.000

119.250.000

119.250.000

 55.750.000

2005

175.000.000

135.000.000

135.000.000

 40.000.000

 

2. Metode Tarif Tetap atas Nilai Buku

     a. Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method)

            Langkah2 perhitungan:

            1. Tentukan tarif penyusutan

                        Tarif = 1- ns  1/n 

                                         hp  

            Tentukan besar penyusutan

            Besar Penyusutan = Tarif x Nilai Buku

 

            Nilai Buku  = Harga Perolehan – Akumulasi Penyusutan

 

            Contoh:

            Tgl 1 Feb 2001 PT ABC membeli sebuah mesin bubut Rp 350.000.000,-. Untuk          biaya pemasangan dan keperluan lainnya dibayar Rp 10.000.000. Mesin tsb     ditaksir memiliki umur ekonomis 8 tahun dgn nilai sisa Rp. 60.000.000,-.

 

            Diminta :

            a. Hitunglah penyusutan pada tahun 2001

            b. Buatlah tabel penyusutan selama 8 tahun

 

            Cara menghitung

            Penyelesaian:

 

            Tarif = 1 – (60.000.000/360.000.000) 1/8 = 0,20066 = 20,07 %

 

            a. Penyusutan tahun 2001 dihitung dari tanggal 1 Feb 2001 s.d 31 Des 2001 = 11                     bulan

            Besar penyusutan tahun 2001 = 11/12 x 20,06 % x 360.000.000

                                                            = 66.198.000

            Untuk tahun 2002 s.d 2008

            Besar Penyusutan = Tarif x Nilai Buku

            Besar Penyusutan tahun 2009 = 1/12 x 20,06 % x 61.291.995

                                                             = 1.024.596

 

b. Tabel Penyusutan tahun 2001 – 2009

Tahun

Harga Perolehan

Besar Penyusutan

Akumulasi Penyusutan

Nilai Buku

2001

360.000.000

66.198.000

66.198.000

293.802.000

2002

360.000.000

58.936.681

125.134.681.

234.865.319

2003

360.000.000

47.113.983

172.248.664

187.751.336

2004

360.000.000

37.662.918

209.911.582

150.088.418

2005

360.000.000

30.107.737

240.019.319

119.980.681

2006

360.000.000

24.068.125

264.087.443

95.912.557

2007

360.000.000

19.240.059

283.327.502

76.672.498

2008

360.000.000

16.380.603

298.708.005

61.291.996

2009

360.000.000

1.024.598

299.732.603

60.267.397

 

 

2. Metode Tarif Tetap atas Nilai Buku

            b. Metode Saldo Menurun Ganda (Double Declining Method)

 

            Langkah2 Perhitungan:

            1. Tentukan Tarif penyusutan

            Tarif = 2 x (100%/UE)

           

            2. Besar Penyusutan = Tarif  x Nilai Buku

            Nilai Buku = Harga Perolehan – Akumulasi Penyusutan

 

            Tarif = 2 x (100%/8)

                     = 25 %

 

            a. Penyusutan th 2001 dihitung tgl 1 Feb 2001 s.d 31 Des 2001 = 11 bulan

                        Besar penyusutan th 2001 = 11/12 x 25 % x 360.000.000

                                                            = 82.500.000

            Untuk th 2002 s.d 2008

                        Besar penyusutan ke n = tarif x nilai buku n-1

 

            Besar penyusutan th 2009 = 1/12 x 25 % x 37.041.779

                    =771.704

 

 

 

 

 

 

b. Tabel Penyusutan th 2001-2009

 

 

Tahun

Harga Perolehan

Besar Penyusutan

Akumulasi Penyusutan

Nilai Buku

2001

360.000.000

82.500.000

82.500.000

277.500.000

2002

360.000.000

69.375.000

151.875.000

208.125.000

2003

360.000.000

52.031.250

203.906.250

156.093.750

2004

360.000.000

39.023.438

242.929.688

117.070.313

2005

360.000.000

29.267.578

272.197.266

87.802.734

2006

360.000.000

21.960.684

294.147.949

65.852.061

2007

360.000.000

16.463.013

310.610.962

49.389.038

2008

360.000.000

12.347.260

322.958.221

37.041.779

2009

360.000.000

771.704

323.729.926

36.270.075

 

 

3. Metode Jumlah Angka Tahun (Sum of the years Digits Method)

 

Langkah-langkah perhitungan:

1. Tentukan jumlah angka tahun (JAT)

            JAT = nx ((n+1)/2)

2. Tentukan besar penyusutan

            Besar Penyusutan = AT  x  (HP-NS)

                                            JAT

Contoh: Tanggal 1 Mei 2000 CV ABC membeli sebuah mesin 9fotocopy seharga Rp. 50.000.000. mesin fotocopy tsb ditaksir memiliki umur ekonomis 4 tahun dgn nilai sisa Rp. 5.000.000.-

 

Diminta:

a. Hitung Penyusutan tahun 2000-2005

b. Buatlah tabel penyusutan

 

Cara menghitung

Penyelesaian:

JAT = 4 x (4+1)  = 10  atau  JAT  = 4+3+2+1 = 10

              2

 

 

 

 

 

 

Angka Tahun Terbalik dijabarkan

4

3

2

1

Angka Tahun ke

I

II

III

IV

 

a. Penyusutan tahun 2000 dihitung dr tgl 1 Mei 2000 s.d 31 des 2000 = 8 bulan

 

Penyusutan tahun 2000

 

Besar Penyusutan = 8/12 x 4/10 x (50.000.000 – 5.000.000)

                                    = 12.000.000

 

Penusutan Tahun 2001

 

Besar Penyusutan=

4/12 x 4/10 x (50.000.000-5.000.000) = 6.000.000

8/12 x 3/10 x (50.000.000-5.000.000) = 9.000.000

                                                               15.000.000

 

Penyusutan tahun 2002

Besar Penyusutan = 4/12 x 3/10 x (50.000.000-5.000.000) = 4.500.000

                                8/12 x 2/10 x (50.000.000-5.000.000) = 6.000.000

                                                                                                10.500.000

Penyusutan tahun 2003

Besar Penyusutan = 4/12 x 2/10 x (50.000.000-5.000.000) = 3.000.000

                                 8/12 x 1/10 x (50.000.000-5.000.000) = 3.000.000

                                                                                                 6.000.000

Penyusutan tahun 2004

Besar penyusutan = 4/12 x 1/10 x (50.000.000-5.000.000) = 1.500.000

 

B. Tabel Penyusutan

 

Tahun

Harga Perolehan

Besar Penyusutan

Akumulasi Penyusutan

Nilai Buku

2000

50.000.000

12.000.000

12.000.000

38.000.000

2001

50.000.000

15.000.000

27.000.000

23.000.000

2002

50.000.000

10.500.000

37.500.000

12.500.000

2003

50.000.000

6.000.000

43.500.000

6.500.000

2004

50.000.000

1.500.000

45.000.000

5.000.000

 

 

4. Metode Unit Produksi (Unit of Production Method)

 

Caranya:

Tentukan besar penyusutan = produksi nyata x (HP-NS) / kapasitas produksi

 

Contoh:

Sebuah mesin dibeli seharga Rp. 250.000.000,- ditaksir memiliki umur ekonomis selama 5 tahun atau 500.000 jam kerja dan diperkirakan memiliki nilai sisa sebesar Rp. 50.000.000,-. Hitunglah besar penyusutan bila diketahui jam kerja setiap tahun sbb:

Tahun ke 1 = 100.000 jam

Tahun ke 2 = 120.000 jam

Tahun ke 3 = 130.000 jam

Tahun ke 4 = 80.000 jam

Tahun ke 5 = 70.000 jam

 

 

Penyelesaian:

Besar Penyusutan tahun 1 =

100.000 x 250.000.000 – 50.000.000 = Rp. 40.000.000

                                    500.000

Besar Penyusutan tahun 2 =

120.000 x 250.000.000 – 50.000.000 = Rp. 48.000.000

                                    500.000

Besar Penyusutan tahun 3 =

130.000 x 250.000.000 – 50.000.000 = Rp. 52.000.000

                                    500.000

Besar Penyusutan tahun 4 =

80.000 x 250.000.000 – 50.000.000 = Rp. 32.000.000

                                    500.000

Besar Penyusutan tahun 5 =

70.000 x 250.000.000 – 50.000.000 = Rp. 28.000.000

                                    500.000





Penyusutan Fiskal

24 09 2008

Dalam operasinya perusahaan memerlukan aktiva untuk menunjang kelancaran usahanya. Jenis aktiva yang diperoleh ada yang mempunyai masa manfaat kurang dari satu tahun atau sekali pakai, ada juga aktiva yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Aktiva ini biasa disebut aktiva tetap. Aktiva yang masa manfaatnya kurang dari satu tahun dibebankan sekaligus pada tahun pengeluaran. Sementara aktiva tetap yang mempunyai masa manfaat atau umur ekonomis lebih dari satu tahun dibebankan selama masa manfaat aktiva tetap tersebut.
Dalam ketentuan fiskal, penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh aktiva tetap berwujud dapat dikurangkan dari penghasilan bruto untuk menghitung Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap
Harta Berwujud Yang Dapat Disusutkan
Harta (aktiva) tetap yang dapat disusutkan adalah pengeluaran untuk pembelian, pendirian, penambahan, perbaikan, atau perubahan harta berwujud, kecuali tanah yang berstatus hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai, yang dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan yang mempun yai masa manfaat lebih dari satu tahun.[2] Jadi aktiva tetap yang dimiliki tetapi tidak digunakan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan tidak dapat disusutkan.
Metode Penyusutan
Metode penyusutan menurut fiskal dikenal dua macam[ :
1. Alokasi harga perolehan dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang telah ditentukan bagi harta tersebut (metode garis lurus).
2. Alokasi harga perolehan dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat (metode saldo menurun).
Dalam metode garis lurus, penyusutan dilakukan dengan cara menerapkan tarif terhadap harga perolehan. Sedangkan dalam metode saldo menurun dilakukan dengan menerapkan tarif terhadap nilai sisa buku. Pada akhir masa manfaat, nilai sisa bukunya disusutkan sekaligus (close endeed).
Dalam ketentuan fiskal, penyusutan dilakukan setahun penuh (kecuali mulai 1 Januari 2001 penyusutan dilakukan dalam bulan penuh). Artinya tidak dikenal penyusutan bulanan. Misal suatu harta atau aktiva diperoleh tanggal 12 Desember 1999, maka penyusutan tahun 1999 untuk harta tersebut dilakukan setahun penuh, bukan satu bulan. Nilai residu dalam ketentuan fiskal juga tidak dikenal.
Penggolongan, Tarif dan Masa Manfaat
Penggolongan, tarif dan masa manfaat disajikan dalam tabel di bawah ini[ :
Kelompok Harta Berwujud Masa Manfaat Tarif Penyusutan
Garis Lurus Saldo Menurun

I. Bukan Bangunan
Kelompok 1 4 tahun 25% 50%
Kelompok 2 8 tahun 12,5% 25%
Kelompok 3 16 tahun 6,25% 12,5%
Kelompok 4 20 tahun 5% 10%

II Bangunan
Permanen 20 tahun 5%
Tidak Permanen 10 tahun 10%

Pengelompokkan harta berwujud sesuai masa manfaat ditetapkan oleh Menteri Keuangan.[
Yang dimaksud dengan bangunan tidak permanen adalah bangunan yang bersifat sementara dan terbuat dari bahan yang tidak tahan lama atau bangunan yang dapat dipindah-pindahkan, yang masa manfaatnya tidak lebih dari 10 tahun. Misalnya barak atau asrama yang dibuat dari kayu untuk karyawan





Timing differences in recognizing revenues and expenses

29 08 2008

Timing differences in recognizing revenues and expenses

 

There are potential timing differences in recognizing revenues and expenses between accrual basis and cash basis accounting.

Four types of timing differences

    a.  Accrued Revenue: Revenue is recognized before cash is received.
    b.  Accrued Expense: Expense is recognized before cash is paid.
    c.  Deferred Revenue: Revenue is recognized after cash is received.
    d.  Deferred Expense: Expense is recognized after cash is paid.

 

Terjemahan-nya:

Perbedaan waktu pengakuan pendapatan dan beban antara dasar akrual dan dasar kas

 

Empat tipe perbedaan waktu:

1.           Pendapatan Akrual : Pendapatan diakui sebelum kas diterima.

2.           Beban Akrual : Beban diakui sebelum kas dibayarkan.

3.           Pendapatan Ditunda : Pendapatan diakui setelah kas diterima.

4.           Beban Ditunda: Beban diakui setelah kas dibayarkan.





Prosedur Pengujian Ketaatan dan Substantif dalam Audit Umum atas Laporan Keuangan

29 08 2008

Prosedur Pengujian Ketaatan dan Substantif dalam Audit Umum atas Laporan Keuangan
Tujuan utama Auditor dalam suatu penugasan audit adalah untuk memberikan pendapat atas kewajaran penyajian Laporan Keuangan perusahaan. Untuk mencapai tujuan tersebut Auditor harus memperoleh bukti audit yang memadai melalui pelaksanaan dua jenis prosedur pengujian audit, yaitu :
1. Prosedur Ketaatan (Compliance Procedures)
2. Prosedur Substantif (Substantive Procedures)
Prosedur Ketaatan
Prosedur ketaatan adalah pengujian yang dirancang untuk memperoleh keyakinan yang rasional terhadap teknik Pengendalian Internal Perusahaan. Pengendalian yang akan diuji hanya sejauh yang berdampak material terhadap penyajian Laporan Keuangan.
Jika pengendalian menunjukkan bahwa kegiatan operasional telah berjalan sesuai dengan yang diharapkan dan direncanakan, maka pekerjaan auditor dapat meliputi :
1. Mengurangi tingkat pengujian Prosedur Substantif
2. Melakukan beberapa prosedur pada tanggal sebelum tanggal laporan keuangan.
Auditor dapat memutuskan untuk tidak melakukan Prosedur Ketaatan dalam hal pengendalian internal sangat lemah dan tidak dapat diandalkan.
Prosedur Substantif
Prosedur pengujian substantif dirancang untuk memperoleh bukti mengenai kelengkapan, keakuratan dan keabsahan data-data yang dihasilkan oleh sistim akuntansi serta ketepatan penerapan perlakuan akuntansi terhadap transaksi-transaksi dan saldo-saldo. Hal ini diklasifikasikan dalam 2 tahap prosedur audit umum, yaitu :
1. Analytical Review
2. Tes secara terperinci atas Transaksi dan Saldo (Tests of Details of Transactions and Balances)
Auditor harus diarahkan untuk melakukan seefisien mungkin pekerjaan yang perlu untuk mencapai hasil audit yang memuaskan. Luasnya tingkat pengujian audit yang akan diterapkan pada umumnya adalah berdasarkan judgement Auditor dengan memperhatikan beberapa factor sebagai berikut :
1. Sejauh mana pengendalian internal dapat diandalkan
2. Unsur Materialitas sehubungan dengan penyajian laporan keuangan secara keseluruhan
3. Sifat dan ukuran masing-masing pos yang membentuk saldo perkiraan tertentu
4. Sejauh mana kekeliruan dapat diungkapkan
Analytical Review
Tujuan utama penerapan Analytical Review adalah untuk mendeteksi kemungkinan adanya akun-akun laporan keuangan yang kewajarannya diragukan (mengevaluasi kelayakan informasi keuangan) serta sebagai langkah awal untuk menentukan luasnya prosedur audit substantif lanjutan yang harus dilakukan. Selain itu, prosedur analytical review juga diperlukan untuk menentukan perlunya penerapan prosedur audit tambahan atas suatu akun laporan keuangan. Beberapa metode Analytical Review yang sering dilakukan Auditor dalam praktek adalah analisa comparative serta analis rasio keuangan.
Analisa comparative (analisa perbandingan) dapat dilakukan dengan cara membandingkan angka-angka laporan keuangan untuk tahun yang diaudit dengan :
1. angka laporan keuangan periode sebelumnya;
2. anggaran atau forecast (ramalan);
3. data competitor perusahaan;
4. data kegiatan operasional yang relevan.
Analisa ini terutama untuk mendeteksi adanya fluktuasi akun laporan keuangan yang signifikan dan memerlukan prosedur pengujian lebih lanjut.
Sedangkan analisa rasio secara umum meliputi analisa rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio solvabilitas dan rasio profitabilitas.
Dalam praktek pemeriksaan, ada kalanya auditor tidak dapat menerapkan prosedur Analytical Review misalnya dalam keadaan tidak tersedianya informasi dan data yang diperlukan. Dalam hal ini, sebagai prosedur alternatif auditor harus memeriksa buku besar dan buku jurnal secara keseluruhan atau bagian yang penting untuk mendeteksi adanya transaksi akuntansi yang tidak umum atau informasi relevan lainnya.
Test of Details of Transactions and Balances
Tests of details dilakukan dengan menerapkan prosedur-prosedur sebagai berikut :
1. Konfirmasi saldo
2. Observasi/Inspeksi
3. Penghitungan Ulang
4. Vouching
5. Rekonsiliasi
6. Account Analysis
Konfirmasi
Pengujian ini meliputi mendapatkan bukti langsung yang menguatkan (biasanya tertulis) dari pihak ketiga mengenai ketepatan dari saldo akun, misalnya konfirmasi saldo bank, saldo piutang, saldo hutang dan akun lainnya. Konfirmasi yang diterima dari pihak ketiga selalu dapat dipertimbangkan sebagai bukti yang lebih kuat dibandingkan dengan data dan informasi dari pihak internal perusahaan.
Observasi/Inspeksi
Prosedur ini memberikan bukti terhadap eksistensi harta berwujud. Observasi/Inspeksi juga dilaksanakan oleh personil perusahaan bersama dengan partisipasi auditor (misalnya observasi dan penghitungan fisik persediaan) atau inspeksi (misalnya inspeksi fisik surat berharga, penghitungan kas).
Penghitungan Ulang
Prosedur penghitungan ulang oleh auditor terhadap kalkulasi yang sebelumnya dilakukan oleh personil perusahaan dimaksudkan untuk membuktikan keakuratan kalkulasi dalam pembukuan perusahaan. Untuk akun-akun tertentu misalnya penghitungan ulang provisi depresiasi aktiva tetap, auditor selain menguji ketepatan matematis dari penghitungan yang dilakukan, juga harus menelaah ketepatan metode depresiasi yang diterapkan perusahaan serta akseptabilitas taksiran umur pemakaian asset yang digunakan dalam kalkukasi.
Vouching
Vouching berarti pemeriksaan dokumen dasar yang bertujuan untuk menentukan ketepatan dari suatu transaksi. Langkah-langkah vouching yang harus dilakukan antaranya :
1. Memastikan bahwa perusahaan telah melaksanakan prosedur dan persyaratan yang ditetapkan dalam Standard Operating Procedure (SOP)
2. Memeriksa dokumen-dokumen terkait
3. Memastikan bahwa transaksi adalah logis dalam keadaan tertentu (misalnya tanggal dokumen termasuk dalam periode yang logis dari tanggal transaksi yang diakui)
Prosedur vouching dapat dilakukan terhadap dokumen-dokumen yang bersumber dari pihak luar yang independen (misalnya faktur dari supplier, rekening koran bank dan lainnya) atau dokumen yang dibuat oleh perusahaan sendiri (misalnya faktur penjualan, laporan alokasi biaya, laporan penerimaan dan lainnya).
Rekonsiliasi
Rekonsiliasi adalah proses pengidentifikasian penyebab perbedaan antara dua jumlah yang berhubungan yang salah satunya biasanya adalah saldo akun di pembukuan. Misalnya : rekonsilasi kecocokan saldo rekening koran bank dengan saldo bank di buku besar, rekonsiliasi saldo penjualan di buku besar dengan saldo penjualan yang dilaporkan dalam SPT Masa PPN, dan lainnya.
Account Analysis
Meliputi pengklasifikasian dan peringkasan aktifitas-aktifitas suatu akun untuk memperoleh keyakinan memadai atas kewajaran transaksi item-tem yang membentuk suatu akun. Misalnya pengujian atas pergerakan akun aset tetap meliputi pengujian saldo awal tahun, penambahan, pengurangan dan saldo pada akhir tahun, pengujian item-item yang membentuk saldo akhir piutang dagang berupa transaksi penjualan yang nilainya material serta transaksi penerimaan pelunasan piutang, dan lainnya.
Mempertimbangkan jangka waktu pelaksanaan audit yang pada umumnya terbatas, prosedur account analaysis sebaiknya dilakukan terbatas pada transaksi-transaksi yang nilainya material dan mencurigakan.





Audit Points

29 08 2008

Selama pelaksanaan penugasan audit, Auditor selalu mencatat bermacam-macam audit notes dan penelaahan atau butir-butir pemeriksaan (audit points) untuk beberapa tujuan guna membantu Auditor dalam melaksanakan pekerjaannya.

Pencatatan tersebut biasanya dalam bentuk :

1. To Do Points

2. Butir-butir Catatan atas Laporan Keuangan (Notes to Financial Statement Points)

3. Management Letter Points

4. Catatan untuk Partner (Points for Partner)

Audit points ini biasanya ditulis pada buku catatan ataupun dengan menggunakan bantuan perangkat komputer. Jika butir-butir tersebut dapat dinilai dengan jelas dan tertulis dengan cukup terperinci, maka catatan tersebut dapat menjadi alat bantu yang berguna untuk mengingatkan penyelesaian masalah-masalah tertentu atau untuk pelaksanaan prosedur audit tertentu.

To Do Points

To Do Points berfungsi sebagai sarana untuk mengingatkan Auditor terhadap prosedur-prosedur yang karena satu atau lain alasan, belum dapat dilaksanakan lebih awal, atau pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak auditor tapi belum terjawab. Biasanya setiap Auditor menyimpan lembar “To Do Point” nya sendiri.

Format To Do Points secara umum mencakup informasi Nama Klien, Lembar Judul (To Do Points), Tanggal Audit, Referensi Kertas Kerja, Penjelasan To Do Points serta Remarks.

Untuk suatu butir To Do Points yang sudah diselesaikan, point tersebut harus dicoret. Dengan demikian, point-point yang masih belum diselesaikan dan perlu penyelesaian dapat diidentifikasi dengan mudah.

Semua masalah penting yang timbul dan penyelesaiannya harus ditunjukkan dalam kertas kerja yang berhubungan. Hal ini merupakan bagian dari temuan Auditor dan berfungsi sebagai masukan pada proses evaluasi bukti-bukti, oleh karena itu harus ditunjukkan dalam kertas kerja yang sesuai. Lembaran “To Do Points” bukan bagian dari kertas kerja. Lembaran-lembaran tersebut harus dimusnahkan setelah semua point telah diselesaikan dan telah dicatat dengan benar dalam kertas kerja audit.

Notes to Financial Statement Points

Selama berlangsungnya audit, Auditor harus waspada terhadap masalah-masalah yang membutuhkan pengungkapan (disclosure) dalam Laporan Keuangan. Ketika Auditor menemukan hal-hal yang membutuhkan pengungkapan, dia harus mencatatnya pada lembaran Notes to Financial Statement Points sehingga dapat berfungsi untuk mengingatkan atau sebagai future reference ketika dia membantu klien membuat draft Catatan atas Laporan Keuangan.

Format Notes to Financial Statement Points pada umumnya harus memberikan informasi mengenai Nama Klien, Lembar Judul (Notes to FS Points), Tanggal Audit, Referensi Kertas Kerja (WP Reference), Rincian hal-hal atau data yang membutuhkan pengungkapan serta Tindakan yang diambil.

Management Letter Points

Management Letter (ML) Points berisi hal-hal yang menjadi temuan Auditor selama pelaksanaan audit dan memerlukan perhatian serta langkah perbaikan oleh manajemen perusahaan misalnya adanya kelemahan pengendalian internal ataupun masalah lainnya. Hal-hal yang akan ditulis pada ML harus disusun selama berlangsungnya audit untuk memudahkan penyusunan ML tersebut dan untuk meningkatkan kwalitasnya.

ML Points harus disimpan pada point sheet yang menerangkan ML Point, bagaimana ML dicatat, rekomendasi untuk langkah perbaikan, komentar manajemen perusahaan serta tindakan yang diambil.

Lembaran ML Points yang harus ditandatangan dan diberi tanggal oleh Auditor yang menyusun, dapat dikumpulkan dalam satu map selama berlangsungnya audit dan kemudian segera difile setelah Ringkasan Kelemahan Pengendalian (Summary of Control Weaknesses).

Catatan untuk Partner (Points for Partner)

Selama proses pemeriksaan, auditor harus mencatat pengecualian-pengecualian yang membutuhkan perhatian atau pertimbangan mendesak dari Partner yang bertanggung jawab (Engagement Partner). Pengecualian ini merupakan pengecualian serius yang dapat menimbulkan efek material terhadap kewajaran penyajian laporan keuangan atau pengecualian yang dapat mengisyaratkan adanya kecurangan atau penyelewengan yang sangat dibutuhkan tindakan segera dari Engagement Partner.





Cost versus Expense

29 08 2008

What is the difference between a cost and an expense?

Before we answer your question, you should keep in mind that many people use these terms interchangeably and will not make the distinction that we show below.

We will illustrate the terminology problem with the following example. Let’s say your company is in the catering business and will cater its biggest event this evening. In the morning your company purchased about 125% of the paper goods that you believe will be used at the event. (You purchased the additional 25% for future events and also to ensure you don’t run out of these items at this evening’s event.) The paper goods that were purchased had a cost of $500, and only $400 of the paper items were used at today’s event. The remaining $100 were put in your company’s store room for use at the events to be catered in the next few weeks. In this example, the cost of $500 consisted of a $400 expense and a $100 asset.

Accountants use the term expense to mean a cost that has being used up while a company is doing its main revenue-generating activities. (That’s why only $400 of the cost of supplies was expensed in our example.)

A cost may or may not be an expense. As we had seen above, $400 of the cost was an expense and $100 of the cost was an asset. Here is a more extreme example: If a company purchases land to be used in its business, the cost of the land will be reported an asset and will never become an expense. (The reason is that land will never be used up and therefore never depreciated.) The land’s entire cost will continue to be reported on the balance sheet as the asset Land as long as the company owns the land.

If a company purchases a delivery truck to be used in its business, the truck’s cost will initially be recorded as the asset Delivery Truck on the company’s balance sheet. However, the truck’s cost will become Depreciation Expense as the truck is “used up” in the company’s main, revenue-generating activities.

Manufacturing companies offer additional insights. The cost of the direct labor used to manufacture a product is a cost of the product. If the product is not sold, the entire cost of the product (including the direct labor component) is reported as an asset. When the product is sold, the cost of the product that is sold will be reported as the expense known as the cost of goods sold (which is matched with sales) on the income statement. The wages paid to the driver of the manufacturer’s delivery truck is reported immediately as an expense, since this cost is not part of a product’s cost—it is part of selling the product. Electricity in the factory is part of the products’ cost and will not become an expense until the products are sold. Electricity in the offices outside of the factory (sales and marketing, general administrative offices) are reported immediately as expenses in the accounting period that they are used. Cost outside of the factory do not become part of the products’ cost.

Many authors of managerial and cost accounting textbooks add to the terminology problem when they say the breakeven point occurs at the point where sales equal fixed costs plus variable costs. Perhaps there is some benefit in brevity, but I would prefer to say that the breakeven point occurs at the point where revenues are equal to fixed costs and expenses and variable costs and expenses. There’s a semantics problem with my preference as well.

Others note:

 

cost might be an expense or it might be an asset. An expense is a cost that has expired or was necessary in order to earn revenues. We hope the following three examples will illustrate the difference between a cost and an expense.

A company has a cost of $6,000 for property insurance covering the next six months. Initially the cost of $6,000 is reported as the current asset Prepaid Insurance. However, in each of the following six months, the company will report Insurance Expense of $1,000—the amount that is expiring each month. The unexpired portion of the cost will continue to be reported as the asset Prepaid Insurance.

The cost of equipment used in manufacturing is initially reported as the long lived asset Equipment. However, in each accounting period the company will report part of the asset’s cost as Depreciation Expense.

A retailer’s purchase of merchandise is initially reported as the current asset Inventory. When the merchandise is sold, the cost of the merchandise sold is removed from Inventory and is reported on the income statement as the expense entitled Cost of Goods Sold.

The matching principle guides accountants as to when a cost will be reported as an expense.





Dosewa-Zone

28 08 2008

Hopefully this blog could enrich our knowledge.





Hello world!

21 08 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.