Monday, June 29, 2009 Film King, Film yang paling INDONESIA

23 06 2015

Gresik, 30 Juni 2009
Sebelum nonton film KING, aq sempat nonton film GARUDA DIDADAKU. Dua film keluarga yang tak jauh dari dunia anak-anak. Yah dua film yang pas untuk mengisi liburan sekolah. Kalo disuruh mana yang lebih bagus Film King dan Film Garuda Didadaku, secara personal aq lebih suka KING. Tapi kedua film ini memang bagus, edukatif sekali. Menceritakan kehidupan keluarga kecil, anak dan ayah (ibu yang sudah meninggal) di sebuah desa di Jawa Timur (banyuwangi kalo nggak salah). Sang ayah mengidolakan Liem Swie King, hingga anaknya diberi nama King dengan harapan dapat berprestasi sebagai atlet bulu tangkis seperti Liem Swie King.Dan yang nggak kalah menariknya adalah pemandangan alam yang ditangkap oleh kamera, merekam keindahan kawah Ijen LUAR BIASA INDAHNYA, SUNGGUH AGUNG….menampilkan banyak rusa atau menjangan di semak-semak rerumputan yang dilihat dari atas. Sempat merinding ketika mendengarkan lagu Indonesia Raya berkumandang.
Setidaknya film ini buat aq lebih bangga dan makin cinta dengan INDONESIA.
Ringkasan cerita dikutip dari :
SUTRADARA: Ari Sihasale, GENRE: Drama, Keluarga, SKENARIO: Dirmawan Hatta, IDE CERITA: Ari Sihasale, Nia Sihasale, dan Andhy Pulung, PEMAIN: Rangga Raditya, Lucky Martin, Surya Saputra, Mamiek Prakoso, Ariyo Wahab, Wulan Guritno, Yati Surachman, dan Wawan Wanisar, RILIS: 25 Juni 2009.Sebuah film yang terinspirasi kisah kesuksesan salah satu legenda bulu tangkis Indonesia, Liem Swie King. Menyalakan kembali rasa nasionalisme kita. Sajian yang sarat nilai-nilai kehidupan. Inilah debut yang manis bagi Ari Sihasale sebagai sutradara. Alkisah, nun jauh di sebuah desa di wilayah Banyuwangi, perbatasan Situbondo, Jawa Timur, hidup sebuah keluarga yang dihuni Tedjo (diperankan gemilang komedian senior Mamiek Prakoso) dan anaknya, Guntur (Rangga Raditya). Tak ada yang istimewa dari mereka, kecuali memiliki mimpi yang besar untuk menjadi orang besar. Ya, itulah Tedjo, duda beranak satu yang ditinggal mati istrinya. Kedekatannya dengan dunia bulu tangkis—meski sebatas pengepul bulu-bulu unggas untuk bahan pembuatan shuttlecock (kok)—membuatnya begitu terobsesi untuk menjadikan anaknya sebagai atlet bulutangkis yang tangguh. Bayang-bayang ketangguhan legenda bulutangkis Indonesia Liem Swie King di ajang All England begitu tertanam dalam benak Tedjo. Ia menari-nari dan selalu menghipnotis pikirannya. Ia berharap kelak Guntur, anaknya, bisa mengikuti jejak prestasi sang idola. Tedjo begitu yakin akan hal itu. Sebab, bakat itu sudah ada dalam diri Guntur. Ia terbilang tangguh sebagai pemain bulutangkis, meski sebatas jago kampung. Sayang, Tedjo justru malah terjebak obsesinya sendiri. Ia kadang bersikap kaku dan terkesan memaksakan keinginannya kepada anaknya. Niatnya mulia, namun tak tertuang baik dalam jalinan komunikasi yang hangat. Hasilnya, malah pertentangan yang muncul. Gap antardua generasi itu akhirnya terbentuk. Guntur bahkan tak tahu, bapaknya memang punya keinginan besar untuk menyalurkan hobinya di dunia bulu tangkis. Guntur juga tidak tahu, ketika salah satu pesawat televisi di rumahnya ditukar sang ayah hanya demi mendapatkan raket agar bisa digunakan anaknya dalam sebuah pertandingan. Yang Guntur tahu, bapaknya hanya bisa menghukumnya dengan berlari mengelilingi lapangan berkali-kali atau loncat katak berulang-ulang. Dua ego dari dua generasi yang berbeda muncul menjadi konflik yang menarik, mengajak penonton untuk bercermin dan mawas diri. “Ini memang bukan hanya film anak-anak, tapi juga mereka yang lebih dewasa,” ujar Ari Sihasale seusai pemutaran perdana film layar lebar pertamanya itu. Satu hal yang juga cukup menarik dari film yang ceritanya muncul dari kendornya prestasi tim nasional bulu tangkis Indonesia di sejumlah event bergengsi adalah usaha Guntur mencapai impiannya. Ia tak hanya ingin membanggakan ayahnya, tapi juga memenuhi cita-cita terdalamnya.Langkah besar, berawal dari langkah kecil. Proses inilah yang disampaikan secara gamblang dalam film KING ini. Dengan tekad dan kerja keras, Guntur mewujudkan mimpinya. Meski ia tak datang dari keluarga terpandang dan kaya raya, semangat yang membara justru memberinya daya menggapai mimpinya.Secara garis besar, film KING terasa memiliki kesamaan tema cerita dengan film Garuda di Dadaku, garapan sutradara Ifa Isfansyah, yang dirilis lebih dulu. Sebuah cerita, yang menghadirkan semangat dari seorang anak yang dibalut dengan persahabatan dan konflik dua generasi. Sosok Raden (Lucky Martin), sahabat Guntur, mengingatkan kita kepada sosok Heri (diperankan Aldo Tansani), sahabat Bayu (Emir Mahira) dalam film Garuda di Dadaku. Begitu pula sosok Michelle (Valerie Thomas) muncul seperti mewakili sosok Zahra (Marsha Aruan) dalam film yang sama. Pertentangan yang yang dihadirkan pun nyaris sebangun. Jika di film KING ada tokoh Tedjo, di Garuda di Dadaku muncul sosok Usman (Ikranegara), kakek dari tokoh utamanya. Dua tokoh ini menjadi benang merah yang begitu kentara. Meski begitu, tetap saja eksekusi sang sutradara justru memberi warna yang berbeda. Ari tak hanya sekadar menghadirkan cerita yang mengharu biru dan tawa lewat sosok Raden, tapi juga visualisasi yang indah bagi penonton. Kamera menangkap jelas momen-momen indah itu. Panorama Indonesia yang indah dan eksotik disajikan dalam balutan gambar yang begitu apik. Lansekap pedesaan yang tentram dan hangat, aura pegunungan yang memancarkan misteri, menjadi amunisi yang memberi nilai plus. Untuk yang satu ini, acungan jempol layak diberikan kepada Yudi Datau selaku Director of Photography film tersebut. Kekuatan lain juga datang dari Aksan Sjuman dan Titi Sjuman yang dipercaya menggarap ilustrasi musik untuk film ini dan soundtrack film yang diisi oleh Ipang “BIP” dan Ridho “Slank”. Karya-karya mereka membawa penonton pada suasana batin yang bergelora, tapi kadang juga menyayat-nyayat. Ya, betapa kita bisa rasakan ketika sosok Raden, sahabat Guntur yang begitu tegar, tak kuasa menahan air mata ketika mendengar lagu kebangsaan Indonesia bergemuruh menyambut kemenangan putra terbaiknya.
Ah, mengapa pula air mata ini tumpah ya… Sungguh film yang mengharukan

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: