Thursday, September 11, 2008 Dealing with a Possesive Friend

23 06 2015
“Harapan”, memang selama kita hidup kita harus memiliki harapan, karena dengan harapan itulah, ada sesuatu yang hendak kita capai dalam kehidupan kita. Ada yang berharap punya karir yang gemilang, punya rumah mewah, mobil mewah, istri/suami yang excellent, anak-anak yang cerdas dan sehat, dan hal-hal yang the best- the best lah.
Kalo usia-usia muda gini, mungkin pengen punya pacar, pasangan hidup yang sesuai dengan yang diharapkan. Tapi ada juga loh yang pengen punya teman dekat yah sebagai Brother gitu deh…
Agak aneh juga ketika melihat suatu kondisi dimana hubungan pertemanan yang terlalu posesif. Mungkin karena harapan yang terlalu berlebihan dari satu salah pihak, sehingga terkadang hubungan pertemanan bisa menjadi hubungan yang “tidak sehat”.
Kebetulan ada pengalaman pribadi temanku yang aq amati, lumayan menarik.
Aq punya teman baik, namanya mas Ei, baik banget deh neh orang, sabar banget, suka menolong, yah caring banget lah. Aq kenal ama mas Ei udah hampir 3 tahun-an gitu. Emang seh kesan pertama lihat neh orang, dia kebapak-an banget, yah jadi terasa terlindungi deh kalo ama neh orang.
Trus hadir teman baru, sebut saja namanya Anto, kalo dilihat neh anak go go power anger, happy ever after boy gitu lah, tapi ada sisi lemah, u know, although he can make the whole world cheer up but his heart still in empty feeling with deep sadness bcos he feels he is alone. Untuk orang yang baru mengenal dia, pasti akan beranggapan neh anak ceria banget, hidup seakan tanpa beban, namun jika kita udah mengenal personality-nya, sebenarnya dia sangat fragile. Terlepas fragile-nya “Mungkin” dikarenakan beban hidup yang harus dia pikul (financial keluarga, problem with the members of family, and his past), sebenarnya dia anak yang baik, mungkin dia butuh sarana atau teman untuk berbagi cerita.
“Kedewasaan”, sampai dimana orang bisa dikatakan telah dewasa? hmmm,….tentu setiap orang mengalami proses pendewasaan diri selama dia hidup. Ada yang beropini, dewasa karena pengalaman, tapi ntahlah, wong aq sendiri masih berproses, bermetamorfosa, jadi kupu-kupu kali hehehehehe.
Lanjut dengan kehidupan Anto. Ketika dia mengenal lingkungan kerja, lingkungan teman yang baru, sampailah dia pada tahap perkenalan dengan mas Ei. Dengan personality mas Ei yang begitu caring, tentu Anto merasakan menemukan sosok Brother yang selama ini dia cari. Mas Ei menyambut dengan tangan terbuka, dengan memberikan perhatian yang mungkin AGAK terlalu berlebihan-tentu dengan tujuan yang mulia, namun hal ini menimbulkan “tingkat KETERGANTUNGAN” yang tinggi. Ada moment dimana Anto begitu sangat tergantung dengan mas Ei, Anto berada pada kondisi dimana dia menganggap mas Ei adalah satu-satunya hal yang terpenting dalam hidupnya.
Huh…., cerita lengkapnya sengaja tidak saya tulis, yang pasti drama ini menyita begitu banyak perhatian (baik dr teman serumah maupun orang kantor).
Akhirnya, drama tersebut berakhir. Mas Ei menyadari semuanya, walau mungkin agak terlambat. Kita semua lumayan lega, Anto bisa kembali ke tahap pemulihan mental dari fase depresi.
Namun tentu saja, tidak mudah menyembuhkan luka, luka dari hasil kekecewaan yang namanya Ekspektasi Berlebihan.
Aq seh berharap dia bisa belajar dari pengalaman nya tersebut, menjadi orang yang lebih kuat secara mental, mampu mandiri. Tidak ada salahnya kita membutuhkan someone special, namanya juga manusia itu makhluk sosial, namun tidak berarti kita bisa memiliki seseorang secara utuh, seutuh-utuhnya. Hal tersebut mungkin juga berlaku untuk hubungan suami-istri pula.
Posesif yang terlalu berlebihan bisa menjadi bumerang. Toh tidak ada yang abadi di bumi ini. Bersyukurlah masih ada teman sebaik mas Ei. Semoga di bumi ini lahir mas Ei-mas Ei yang memiliki empati yang tinggi terhadap sesama.
Aq sangat mensyukuri pernah mengenal kepribadian mas Ei. Saat ini mas Ei, sudah banyak berubah, berubah menjadi manusia yang lebih baik tentunya, plus udah punya pacar pula (di luar dugaan kita semua hehehe). Mas Ei, kapan nikah?????? jadi ndak sabar, penasaran juga abies dia kan udah sambang ke calon mertua di Jogja. Hmmmm percintaan antara Solo dan Jogja, pasti kita datang deh kalo pas mas Ei nikah. Lagian cewek-nya mas Ei jago masak eiiii, thanks yah, sering-sering masak, ntar jangan lupa kirim ke mes, biar kita yang menilai, lezat tidaknya hehehehehe.
Sebagai teman, aq berhadap Anto dan Mas Ei, bisa berteman lagi seperti dulu, tanpa harus mempermasalahkan masa lalu. Walau tidak bisa sedekat seperti dulu, namun masih bisa untuk bertegur sapa “Hai, gmana kabar?”.

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: